Google
 

30.3.08

BESI MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK

Mengapa defisiensi besi pada anak anemia bahkan non anemia dapat terjadi?
Anemia adalah penurunan konsentrasi eritrosit atau hemoglobin per mm3 yang diukur melalui volume 100 ml darah. Otak anak yang sedang berkembang pesat membutuhkan asupan darah lebih banyak, jadi asupan besi yang dibutuhkannya juga akan lebih banyak untuk memproduksi lebih banyak darah. Logikanya pada anak yang anemia, kadar besi dalam tubuhnya juga sedikit sehingga rentan terjadi defisiensi besi dan tidak menutup kemungkinan pada anak yang tidak anemia. Anemia ditandai dengan jumlah serum besi dan feritin hanya sedikit karena otak anak sedang berkembang pesat, yang akhirnya dapat terjadi defisit fungsi otak menetap hingga dewasa. Dampak utama anemia defisiensi besi adalah rendahnya Inteligent Quotient (IQ) anak.
PERAN BESI
Besi mempunyai peran penting dalam tubuh, antara lain pada sintesis DNA, fungsi mitokondria, transportasi oksigen, produksi ATP, pelindung sel dari kerusakan akibat oksidasi, dan berperan dalam sintesis neurotransmitter serotonin, dopamin, epinefrin, serta norepinefrin.
Konsentrasi besi di otak lebih tinggi daripada logam lainnya, karena banyak dibutuhkan untuk proses myelinisasi oligodendrit (cabang sel saraf) terutama neuron pada sistem sensorik visual dan auditori, pembelajaran, dan perilaku. Besi dibutuhkan oleh neurotransmitter dopaminergik yang berpengaruh pada perkembangan perilaku inhibisi, perasaan, proses perhatian, dan keterampilan. Besi juga dibutuhkan sebagai kofaktor enzim triptofan hidroksilase yang mensintesis norepinefrin dan dopamin. Selain itu, besi berperan pada metabolism sel saraf di hipokampus dan lobus prefrontal yang berperan penting dalam proses memori.
Plasma transferin yang mengikat besi dapat menembus sawar darah otak karena konsentrasinya yang lebih rendah daripada cairan otak. Dan sebagian besar besi yang dilepaskan ke dalam prekursor eritrosit untuk pembentukan hemoglobin akan disimpan dalam bentuk feritin. Gangguan fungsi otak dapat terjadi bila cadangan serum besi dan feritin di otak mulai menurun sebelum kadar di dalam darah menurun. Defisiensi besi tanpa anemia atau dengan anemia ringan hanya menyebabkan gangguan ringan bila berlangsung sebentar, namun berpotensi mengganggu fungsi otak yang menetap bila terjadi pada mas perkembangan otak.
PENGARUH DEFISIENSI BESI
Defisiensi besi di otak menyebabkan proses pembentukan selubung saraf myelin terganggu, sehingga hantaran impuls dan proses informasi oleh otak melambat. Selain itu, mengakibatkan pula melambatnya pertumbuhan dendrit dan perubahan metabolisme di hipokampus sehingga mengganggu proses informasi dan pengendalian emosi. Defisiensi besi juga menurunkan aktivitas enzim hidroksilase triptofan dan tirosin yang bermanifestasi pada gangguan produksi neurotransmitter serotonin dan dopamin, sehingga akhirnya dapat terjadi gangguan pemusatan perhatian, pembelajaran, dan perilaku.
Myelinisasi pada sistem saraf visual dan auditori yang terletak di medula oblongata (batang otak) pada saat awal masa bayi berlangsung sangat cepat, sehingga sangat membutuhkan asupan besi yang cukup. Oleh karenanya, defisiensi besi pada masa itu dapat mengganggu fungsi pendengaran dan visual. Secara umum, defisiensi besi berpotensi menimbulkan gangguan dalam menerima dan memproses informasi, memusatkan perhatian, hiperaktivitas, mengendalikan emosi, gerak, memori, dan pembelajaran lingkungan sehingga mengakibatkan rendahnya IQ anak, prestasi sekolah, pemecahan masalah, dan gangguan perilaku.
DAMPAK ANEMIA
Gangguan perkembangan akibat defisiensi besi dipengaruhi oleh berbagai hal yang akhirnya secar langsung maupun tidak langsung mengakibatkan rendahnya kemampuan anak. Faktor lingkungan (sosial-ekonomi) yang tidak menguntungkan mengakibatkan rendahnya kemampuan pengasuhan. Pemberian zat besi pada anak anemia berumur kurang dari 2 tahun dalam waktu singkat maupun lama, tidak dapat mengejar ketertinggalan perkembangan, kecerdasan, dan gangguan perilaku dibandingkan dengan defisiensi non anemia karena telah terjadi gangguan perkembangan otak menetap pada masa perkembangan. Pemberian pada saat lebih dari 2 tahun akan meningkatkan kemampuan kognitif namun tidak dengan prestasi sekolahnya.
SKRINING DINI
Sebaiknya skrining dilakukan pada tahun pertama sebelum berusia 6 bulan untuk mencegah defisiensi besi, karena anemia saat usia 8 bulan dapat mengakibatkan keterlambatan perkembangan pada usia 18 bulan. Bayi yang mendapat ASI sebaiknya sudah diberi tambahan asupan zat besi sejak berusia 6 bulan, sementara pada bayi dengan risiko tinggi sebaiknya diberikan lebih awal saat berusia 4 bulan. Pada bayi yang tidak diberi ASI harus minum susu formula yang difortifikasi besi dan menghindari susu sapi segar karena dapat menhambat penyerapan zat besi.
Indikasi Dosis Lama Pemberian
Berat lahir rendah (usia 2-23 bulan) Semua 2 mg/kgbb/hari Usia 2-23 bulan
Berat lahir normal (usia 24-59 bulan) Prevalensi anemia >40% 2 mg/kgbb/hari Selama 3 bulan
Berat lahir normal (6-23 bulan) Tidak mendapat makanan yang difortifikasi besi.
Prevalensi anemia >40% 2 mg/kgbb/hari Umur 6-23 bulan
Dosis Pemberian Suplementasi Besi pada Bayi dan Balita
Bayi yang tidak dapat mendapat besi lebih lambat dalam memproses informasi, kurang dalam afeksi positif dan interaksi sosial, dan kurang peduli pada reaksi pengasuh. Pendeteksian defisiensi besi harus dilakukan sebelum terjadi anemia untuk menghindari defisit otak menetap.
(Sumber : Dokter Kita, Edisi 9, Tahun II, dengan tambahan dari referensi yang relevan)

1 komentar:

Iva mengatakan...

makasih ya infonya
aku mau link donk